
WILALANGNEWS.ID, LANGGIKIMA – Kondisi infrastruktur jalan di Kecamatan Langgikima saat ini kian memprihatinkan dan menjadi beban berat bagi masyarakat. Kerusakan jalan yang tak kunjung usai memicu reaksi keras dari berbagai elemen warga yang menggantungkan hidup pada akses jalan tersebut.
Melalui wadah perjuangan kolektif “Aliansi Langgikima Menggugat (ALAM)”, masyarakat kembali menyuarakan keresahannya terkait dampak kerusakan jalan terhadap aktivitas ekonomi. Para sopir travel menjadi pihak yang paling merasakan getirnya kondisi jalan yang rusak bak kubangan kerbau.
Alpian, S.Kep, selaku Wakil Ketua Travel Wilalang, mewakili rekan-rekannya menegaskan bahwa situasi di lapangan sudah sangat mendesak. Ia menilai bahwa ketergantungan pada rencana pemerintah tidak bisa menjadi alasan untuk membiarkan jalan terus hancur tanpa penanganan sementara.
Pemerintah Daerah (Pemda) Konawe Utara memang telah menjanjikan rencana pengaspalan jalan lingkar tambang sepanjang 113 km. Namun, masyarakat memahami bahwa proses perencanaan hingga realisasi pengaspalan tersebut membutuhkan waktu yang tidak sebentar di tengah efisiensi anggaran saat ini.
“Kami mengapresiasi rencana Pemda, tapi jalan ini tidak bisa menunggu. Mobil kami sudah sekarat dan hasil narik penumpang habis hanya untuk biaya bengkel. Perusahaan tambang yang setiap hari melintasi jalan ini dengan muatan berat jangan hanya berpangku tangan,” tegas Alpian.
Alpian menegaskan bahwa puluhan perusahaan tambang di wilayah Langgikima memiliki sumber daya alat berat yang mumpuni. Jika ada itikad baik, perusahaan bisa melakukan perbaikan jalan secara mandiri, minimal dengan pengerasan atau penimbunan titik lubang yang membahayakan.
“Puluhan perusahaan tambang di sini punya alat berat yang mumpuni. Kalau mereka serius mau membantu daerah, alihkan saja alat itu sebentar untuk memelihara jalan umum yang mereka pakai tiap hari,” tambah Alpian mengenai solusi konkret yang ditawarkan masyarakat.
Menurut Alpian, langkah tanggap darurat dari perusahaan merupakan bentuk tanggung jawab sosial yang akan menciptakan hubungan harmonis dengan masyarakat. Hal ini sekaligus menjadi langkah preventif agar tidak terjadi konflik sosial akibat kekecewaan warga yang merasa diabaikan.
Melalui ALAM, masyarakat Langgikima berkomitmen untuk terus mengawal isu ini hingga ada langkah nyata dari pihak perusahaan di lapangan. Masyarakat sangat berharap perusahaan segera mengambil inisiatif perbaikan sebelum kondisi infrastruktur semakin melumpuhkan seluruh aktivitas ekonomi warga.










