Konawe Utara, Wilayah Wiwirano, Landawe, dan Langgikima di Konawe Utara telah lama dikenal sebagai sentrum pertambangan yang strategis, dengan konsentrasi IUP yang signifikan dan aktivitas industri yang terus berkembang. Posisi ini menjadikan kawasan tersebut sebagai salah satu penggerak utama ekonomi daerah. Namun, di tengah laju investasi dan hilirisasi industri, muncul pertanyaan mendasar: sejauh mana pengusaha lokal memperoleh ruang yang proporsional dalam ekosistem ekonomi tersebut?
Ketua Asosiasi Pengusaha Lokal Wilalang, Gafur, SH., MH., menilai bahwa momentum pertumbuhan industri tambang harus dibarengi dengan penguatan kemitraan yang adil dan terstruktur. Menurutnya, keberadaan perusahaan besar di wilayah tersebut semestinya memberikan efek pengganda yang nyata bagi pelaku usaha lokal. “Kami tidak sedang berbicara tentang privilese atau perlakuan khusus. Yang kami dorong adalah kemitraan profesional yang memberi ruang kepada pengusaha lokal untuk tumbuh bersama industri,” ujar Gafur.
Ia menegaskan bahwa asosiasi yang dipimpinnya hadir sebagai wadah konsolidasi dan peningkatan kapasitas pelaku usaha daerah, agar mampu memenuhi standar perusahaan dan regulasi yang berlaku. Dalam pandangannya, pemberdayaan tidak boleh dimaknai secara simbolik, tetapi harus terukur dan berkelanjutan. “Pengusaha lokal harus dipersiapkan secara manajerial, administratif, dan teknis. Dengan begitu, kemitraan yang terbangun bukan karena kedekatan, melainkan karena kompetensi,” tambahnya.

Progres pembangunan smelter oleh PT Stargate Mineral Asia di Konawe Utara dinilai sebagai peluang strategis untuk memperluas partisipasi ekonomi masyarakat sekitar. Pembangunan fasilitas hilirisasi tersebut tentu membutuhkan dukungan logistik, penyediaan barang dan jasa, serta layanan pendukung lainnya. Dalam kerangka inilah, Asosiasi Pengusaha Lokal Wilalang berharap adanya skema kemitraan yang transparan dan akuntabel.
Gafur memandang bahwa hilirisasi industri harus dipahami secara komprehensif. “Hilirisasi bukan hanya soal peningkatan nilai tambah mineral, tetapi juga tentang bagaimana nilai tambah itu berdampak pada struktur ekonomi lokal. Jika perusahaan tumbuh, maka pengusaha lokal di sekitarnya juga harus ikut bertumbuh,” jelasnya. Ia menekankan pentingnya komunikasi terbuka antara perusahaan dan asosiasi sebagai jembatan aspirasi.
Secara normatif, gagasan tersebut sejalan dengan semangat regulasi pertambangan nasional yang mendorong tanggung jawab sosial dan pemberdayaan masyarakat sekitar wilayah tambang. Dalam praktik tata kelola industri modern, pelibatan pelaku usaha lokal menjadi bagian dari prinsip keberlanjutan dan good corporate governance. Kemitraan yang dirancang dengan sistem seleksi yang jelas dan standar mutu yang tegas justru akan memperkuat kredibilitas perusahaan.

Lebih jauh, Gafur menilai bahwa stabilitas investasi sangat dipengaruhi oleh harmoni sosial di sekitar wilayah operasi. “Perusahaan membutuhkan stabilitas, dan stabilitas itu lahir dari rasa memiliki. Ketika masyarakat dan pengusaha lokal merasa dilibatkan secara adil, maka dukungan sosial terhadap investasi akan semakin kuat,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa asosiasi siap menjadi mitra dialog yang konstruktif.
Opini yang dibangun Asosiasi Pengusaha Lokal Wilalang pada dasarnya bukanlah wacana konfrontatif, melainkan ajakan untuk membangun pola kolaborasi jangka panjang. Prinsip yang dikedepankan adalah profesionalitas, transparansi, dan kepatuhan terhadap hukum. Dengan demikian, kemitraan yang terjalin tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga memperkuat legitimasi sosial perusahaan di tengah masyarakat.
Pada akhirnya, sentrum pertambangan di Wiwirano, Landawe, dan Langgikima diharapkan menjadi sentrum kemajuan bersama. Investasi dan pembangunan smelter harus menjadi pintu masuk bagi terciptanya struktur ekonomi daerah yang inklusif. Sebagaimana ditegaskan Gafur, “Kami percaya bahwa kemajuan industri dan kemajuan pengusaha lokal bukan dua hal yang bertentangan. Keduanya justru harus berjalan beriringan untuk mewujudkan Konawe Utara yang berdaya dan berkeadilan.” Tutupnya














